Salah Pesan dan Salah Baca
July 22, 2009 1 Comment
Mencari makanan yang halal di daerah yang bukan mayoritas muslim merupakan suatu perjuangan. Hal ini terjadi pada saat saya dan teman-teman dari Indonesia mengikuti workshop di Bangkok, Thailand.

Setelah check-in di hotel dan istrahat sebentar, hal pertama yang dilakukan adalah makan malam. Kebetulan waktu makan malam sudah tiba. Untungnya hotel yang dipilihkan oleh panitia adalah di daerah yang dikenal dengan nama ‘Nana’, berada di jalan Sukhumvit. Nana merupakan lokasi yang mayoritasnya dikunjungi oleh negara timur tengah dan india. Sehingga banyak restoran India dan Arab, dan yang paling penting, berlabel halal. Setidaknya ada jaminan bahwa makanan tersebut layak dikonsumsi oleh umat muslim.
Akhirnya, pilihan jatuh ke salah satu restoran India. Karena saya dan teman-teman tidak terlalu familiar dengan masakan India, maka saling menebaklah makanan yang akan dipilih. Kami sepakat untuk memilih makanan yang berbeda, sehingga akan bisa saling mencicipi satu sama lain. Saya memilih chicken tandori dengan roti. Rekan yang lain ada yang memilih fish tika, nasih goreng ayam, mashala dan lain-lain (lupa dengan nama masakan yang tidak familiar).
Kami ngobrol menceritakan organisasi masing-masing sambil menunggu masakan disajikan. Saat masakan disajikan di meja, kamipun terheran-heran sambil cekikikan dengan porsi yang disajikan. Cukup banyak untuk ukuran perut Indonesia. Tapi apa mau dikata, sudah dipesan dan tidak mungkin untuk membatalkan pesanan. Kamipun menikmati hidangan yang cukup banyak itu. Bayangkan, nasi goreng yang disajikan cukup untuk 3 orang. Dan di meja ada 4 porsi nasi goreng untuk kami yang hanya ber-lima. Chicken tandori yang saya pesanpun sepertinya ayam kalkun dan bukan ayam broiler.
Kami beruntung, sarapan yang disajikan dihotel juga ada menu makanan halal. Hanya sayang, selama 5 hari kami di hotel, menu untuk makanan halal selalu sama setiap hari yaitu: hush brown, omelete, pancake, telur rebus dan telur ceplok.
Hari berikutnya juga sama dan dilalui dengan makanan India. Makanan termahal yang pernah kami santap adalah pada hari ke-3. Setelah workshop selesai, kami berencana ke Suan Lum, night bazar atau pasar malam. Setelah menikmati fish spa, sambil geli-geli karena kakinya dikerumuni oleh ikan, kami menuju pasar malam dan mencari food court sambil berharap ada makanan halal. Kami beruntung (lagi-lagi) karena pada saat menanyakan ke satpam, kami diantar ke restoran sea food yang juga ada label halal-nya. Kami memesan ikan kakap, ikan kerapu, udang, dan cumi-cumi. Saat tagihan diberikan, kami sempat kaget karena ditagih 4500 Baht. Kira-kira sekitar 1.4 juta rupiah untuk pesanan tersebut.
Hal yang cukup menggelikan adalah pada makan malam terakhir. Kami ke MBK, salah satu pusat perbelanjaan cukup besar di Bangkok. Dari informasi kami peroleh bahwa di food court-nya terdapat masakan halal. Kami mencari-cari informasi dan diperoleh bahwa food hall terdapat di lantai 5. Pada saat menuju food hall kami melihat tulisan ‘International Food Hall’. Saat membaca tulisan tersebut, entah karena lapar atau terlalu yakin, kami membacanya HALAL. Langsung menuju food hall, baru sadar kok international food semua dan tidak ada pesan atau kata-kata hall-nya. Baru dech kegelian sendiri akibat salah baca. Akan tetapi kami tidak salah, ternyata memang ada masakan halal yaitu restoran arab. Santapan malam terakhirpun dinikmati di restoran Arab.





yang penting kan ga kelaperan di negeri orang. lagian kalo salah baca “dan tidak sadar” dimaklumin bukan???