Telemarketing: Kok Maksa?
August 19, 2009 6 Comments
Pukul 10.00 WIB, hari ini, telpon genggam saya berdering. Nomor pemanggil tertera di ponsel saya, 021-xxxxxxx.
Dari seberang sana, sapaan manis terdengar.
“Selamat pagi pak iwan, saya dari bank xxx, mohon waktunya sebentar”
Kalau dari bank, feeling saya mengatakan bahwa saya akan ada tagihan kartu kredit yang belum saya bayar atau penawaran produk bank.
“Pagi mbak, ada apa ya?”
Setelah basa-basi menanyakan kabar dan mengucapkan terima kasih sebagai nasabah bank tersebut, kemudian mbak-nya nyerocos mengenai penawaran produk asuransi dari bank tersebut. Ternyata feeling saya yang kedua yang benar.
Setelah panjang lebar menjelaskan, saya yang memang sudah tidak tertarik dengan penawaran melalui telpon atau yang dikenal dengan telemarketing, hanya manggut-manggut malas.
Cukup lama menjelaskan…
“Apakah sudah cukup jelas pak?” tanya si mbak.
“Cukup mbak, tetapi saya tidak tertarik untuk saat ini.” jawab saya.
“Kenapa pak? Bukankah asuransi itu sebagai proteksi dan blah..blah.blah..” menjelaskan manfaat produknya.
Setelah berargumen dan tetap tidak tertarik dengan produk tersebut, akhirnya percakapan diakhiri. Terdengar nada kurang puas dari seberang. Target pemasaran gagal.
Akhir-akhir ini memang cukup sering saya menerima telpon seperti ini. Umumnya merupakan pemasaran yang dilakukan lewat telpon atau istilah kerennya telemarketing.
Sepertinya, telemarketing merupakan salah satu pemasaran yang ampuh, meskipun saya tidak mendapatkan data statistik. Akan tetapi dengan cukup seringnya saya sendiri menerima telpon telemarkating, sebagaimana juga halnya beberapa teman saya.
Ada beberapa hal mungkin kenapa telemarketing dinilai dapat meningkatkan penjualan:
- Penjual tidak berhadapan langsung dengan calon pembeli. Figur penampilan penjual tidak dapat dinilai langsung oleh calon pembeli.
- Tidak ada kesempatan buat calon pembeli untuk mepertimbangkan penawaran yang dilakukan oleh penjual. Bandingkan dengan penawaran langsung yang memberi kesempatat buat calon pembeli untuk mempelajari penawaran.
- Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan lebih murah.
- Jangkauan pasar yang tidak terbatas.
Waktu yang terbatas dan tanpa diberikan waktu untuk mempertimbangkan penawaran umumnya membuat calon pembeli menerima tawaran tersebut. Salah seorang rekan saya malah pernah menawarkan untuk dikirimkan penawaran melalui fax dan akan mempertimbangkannya. Akan tetapi sistem mereka tidak diijinkan untuk melayani hal tersebut.
Masih berminat dengan telemarketing?





hehehehe… sama mas gw juga tadi pagi ini baru aja ditawarin produk dari bank. cuman gw langsung bilang aja : “maaf mba saya saat ini sedang sibuk banget, mungkin nanti lain kali saja mba nelpon lagi”, dan akhirnya percakapan gw dengan si mba telemarketing tadi langsung beres tanpa basa basi. tapi di lain sisi juga gw ga bakal tertarik sih dengan produk yang bakal dia tawarkan. paling kalo ngga asuransi trus kredit deh.
masalahnya, belum sempat bilang nggak, si mbak-nya udah nyerocos duluan..
gak bermutu topiknya hanya melihat kejelekan saja,payah,bisanya hanya mengeluh bkn mengkritik.kyk udah pinter aj
Saya gak pintar, hanya saya merasa terganggu dengan telemarketing. Alasannya sudah saya jeaskan juga diatas. Anda kalo tidak setuju ajukan dong alasannya, bukannya menggerutu dan memaki seperti itu..
permisi mas, tulisannya saya link ke grup “Hentikan Kegiatan Telemarketing Kartu Kredit” di Facebook ya
Ini alamat grup nya: http://www.facebook.com/group.php?gid=331520774172
silahkan bergabung dan undang teman-teman lainnya yang senasib dengan kita, sudah muak diganggu oleh para telemarketer!
Ok mas…